Perjuangan dan Pengabdian Adalah Fitrah Manusia Sebagai Khalifah Fil Ard

Perjuangan dan pengabdian adalah salah satu fitrah manusia sebagai khalifah fil ard. Berjuang merupakan sebuah pengabdian diri atas sesuatu yang diperjuangkan. Dalam prosesnya tentu membutuhkan kekuatan, yakni mental, jiwa, tenaga dan juga pikiran. Serta berdedikasi dan selalu mengupayakan pada kesadaran, kesabaran dan keikhlasan.

Perjuaangan dan pengabdian manusia sebagai salah satu fitrahnya adalah semata-mata hanya untuk mewujudkan cita-cita luhur dalam kehidupannya. Cita-cita luhur akan menjadi tujuan hidup sebuah pengabdian di dunia. Pastinya banyak sekali halangan dan rintangannya.

Perjuangan dan Rintangan

Lantas apakah dengan banyaknya rintangan, kita tidak bisa lagi mewujudkan cita-cita tersebut? saya rasa tidak seperti itu, karena seseorang akan berfikir bahwa untuk menjadi besar bukan bim salabim.

Dalam puisinya Gus Mus:

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana. Semua kau anggap salah, kau yang tak memahami atau aku yang kurang memahami.

Ntah lah, biar semua menjadi pembelajaran bagi kita semua. Momentum pembelajaran ini mudah-mudahan menjadikan diri kita semakin dewasa serta mampu berfikir dinamis.

Terlepas dari sebuah permasalahan yang kompleks di dalam menyampaikan maksud pembelajaran/ transformasi ilmu. Hendaknya seseorang bisa lebih berfikir inklusif. Mampu membuka mata, hati dan fikirannya secara detail, memahami secara utuh apa yang sedang ia jalankan.

Bukankah Islam selalu mengajarkan demikian, yakni pada pemahaman yang universal, kaffah / menyeluruh (totalitas). Pijakan dan tendensi di dalam pengabdian dan berjuang, Islam menawarkan banyak cara, diantara  Islam sebagai spirit, motivasi serta inspirasinya.

Sehingga seseorang akan berjalan sesuai dengan fitrah kehidupannya. Ia akan lebih mendahulukan kepentingan kemaslahatan umat dari pada kepentingan dirinya sendiri.

Dengan demikian,  seseorang tidak akan memperdulikan seberapa banyak ia sudah berjuang, perjuangan ini merupakan sebuah keharusan yang ada pada dirinya, sehingga ia akan sadar bahwa perjuangannya semata-mata bentuk pengabdian sebagaimana fitrahnya sebagai manusia.

Jadi kesadaran, keikhlasan serta kesabaran merupakan kunci terpenting di dalam menggaet asa, cita-cita dan harapan. Serta meletakkan Islam sebagai spirit,motivasi dan inspirasi. Fitrah Manusialah yang meniscayakan kita untuk terus melakukan perjuangan dan pengabdian di muka bumi ini.