Gerakan Mahasiswa Kekinian

Gerakan Mahasiswa Kekinian – Kesalahan  cara  memandang  gerakan,mahasiwa yaitu  memandang  gerakan  hanya dari  satu seginya saja, yakni segi yang negatif, bisa mengakibatkan hilangnya arah positif  gerakan. Dan bila ini dibiarkan, akan mengakibatkan hancurnya semangat   berjuang.

Singkatnya   mengakibatkan   hancurnya   pergerakan   itu sendiri. Adalah sungguh salah bila memandang gerakan dari satu seginya saja, apalagi bila bukan merupakan hasil  dari kesimpulan dialektika sejarah. Harus dicamkan dalam-dalam, bahwa kenyataan/realitas apapun memiliki dua sisi.

Sisi yang negatif dan sisi yang positif; di dunia ini, tidak ada satu hal ihwal pun yang bersegi  satu,  yakni  hanya  segi   negatifnya  saja.  Dan  gerak  maju  sejarah merupakan hasil pergulatan segi yang positif dengan segi yang negatif.

Akhirnya dalam pergerakan yang memiliki semangat yang tinggi-militansi yang tinggi- segi positif sekecil apapun (apalagi bila besar) harus diusahakan agar dikondisikan, dikonsolidasikan dan dimanfaatkan untuk mendorong maju pergerakan, merevolusionerkan pergerakan.

Dibalik itu semua, patut kita sadari bahwa mahasiswa adalah manusia biasa.  Dalam  konteks  ini,  mahasiswa adalah  figur  lemah  yang  senantiasa dijadikan objek (padahal mereka hakikinya adalah subjek).

Demikian Mahasiswa juga merupakan “struktur unik”, dalam tatanan kemasyarakatan, politik maupun budaya. Unik karena  mahasiswa memiliki status, latar belakang dan ideologi yang boleh jadi membuat  mereka bangga. Namun dalam segala keterbatasan dan sangat  biasanya mahasiswa.

Mereka   bisa  menjelma   menjadi   sebuah kekuatan luar biasa yang tidak bisa  dibendung dengan senjata apa pun juga. Lebih  lanjut,  mahasiswa boleh  jadi  bangga  atas  intelektualitas  yang  mereka miliki  karena  mereka termasuk  orang-orang  yang   beruntung  yang  dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang tertinggi. Maka tidak salah memang, jika mereka-mereka ini menyandang sebutan mahasiswa, status superior  bagi pelajar saat di Indonesia.

Status   yang   disandang   ini   memberikan   konsekuensi   logis   adanya hubungan timbale balik antara status mahasiswa, status dan peran mahasiswa. Sebagai  bagian  dari  masyarakat,  mahasiswa  harus  peka terhadap apa  yang dialami dan dirasakan oleh masyarakat.

Pentingnya peran mahasiswa ini layak kita garis bawahi. Tidak hanya terletak pada posisi mahasiswa yang cnederung “elitis”  karena  stigma   positif  yang  melekat atas kedudukan  mereka  yang istimewa di mata masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas mahasiswa atas tanggung  jawab  moral-sosial   kemasyarakatan  yang  digantungkan  oleh masyarakat kepada mereka.

Mahasiswa menjadi representatif bagi masyarakat dalam mengaspirasikan tuntutan. Oleh karena itulah tuntutan mahasiswa adalah tuntutan rakyat, tuntutan yang mengatasnamakan rakyat Indonesia.
Karakteristik Mahasiswa.

Di lihat dari “kaca mata”, saya tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari terdapat berbagai karakter mahasiswa, yang “menghiasi”, perannya dalam pergerakan mahasiswa itu sendiri. Cenderung Oportunis. Jenis mahasiswa seperti ini cenderung menggambarkan bahwa organisasi dan pergerakan mahasiswa  merupakan sebuah ladang bagi  dirinya untuk meraih keuntungan.

Entah itu keuntungan materi, kekuasaan ataupun status sosial. Berpolitik praktis. Jenis mahasiswa ini biasanya tergabung ke dalam satu partai dan mencoba untuk menggalang  kekuatan  masa  untuk  menduduki  sebuah  jabatan  atau  untuk menggalang sebuah kekuatan opini.  Yang lucunya,untuk sebagian mahasiswa cenderung   meng”kultus”kan   seorang  tokoh, tanpa   didasari oleh   sebuah pemikiran-pemikiran kritis.

Bersikap acuh tak acuh. Ada   dua   sebab   mengapa   mahasiswa   menjadi   acuh   tak   acuh. Pertama dikarenakan  tidak  adanya  rasa  tanggung  jawab  dalam  diri  mahasiswa  yang bersangkutan dan mengidentikan bahwa seorang mahasiswa itu hanya bertugas untuk   “belajar”.

Kedua,  dikarenakan platform pergerakan  mahasiswa  yang tengah di usung tidak sesuai dengan pemikirannya ataupun cara dia berjuang, bisa jadi  orang-orang  seperti ini mulai melihat bahwa organisasi  mahasiswa yang bersangkutan berada pada jalur yang salah.

Idealis.Idealisme adalah sesuatu yang ideal dengan kata lain menempatkan sesuatu pada tempatnya, bisa juga diaktakan serasi atau selaras. Sebagai contoh seorang mahasiswa   dikatakan  memiliki idealisme  adalah  ketika  melakukan  protes kepada   seorang   Dekan   yang   membuat   sebuah keputusan   dengan   tidak mengindahkan  agturan.

Untuk  kembali  kepada  aturan  yang  sebenarnya, jadi idealisme di sini adalah mencoba  untuk memperjuangkan sebuah aturan yang telah disepakati sebelumnya, contoh lainnya  adalah ketika seorang mahasiswa memperjuangkan kebutuhan orang-orang miskin, yang hak-haknya tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah.

Jadi idealisme   itu  timbul dikarenakan adanya sebuah  pemikiran  untuk menempatkan  segala  sesuatu  pada  tempatnya  atau dengan   kata   lain   berbuat   adil.   Landasan   mahasiswa   dalam   pergerakan mahasiswa, yang secara  garis  besar  ada  dua  landasan  yang  dipakai   oelh mahasiswa untuk memperjuangkan idealisme itu tadi yaitu hukum positif dan hukum agama.

Pergerakan Mahasiswa dalam Perspektif Sejarah

Tidak dapat dipungkiri peran mahasiswa menjadi begitu penting dalam sejarah  perjuangan bangsanya dari masa ke  masa. Gerakan mahasiswa telah membuktikan bahwa mereka mampu untuk menumbangkan keotoritarian kaum elite  atas  rakyatnya. Gerakan  mahasiswa  untuk  kemudian  menjadi  bentuk perjuangan dan kontribusi nyata kaum intelektual. Dalam hal ini bertanggung jawab dan beban mpral-sosial kepada masyarakat.

Gerakan mahasiswa tampaknya memang sudah menjadi tuntutan zaman. Keberadaannya timbul dan tenggelam dalam pergolakan bangsa-bangsa yang ingin   menata  kehidupan  demokrasinya  menuju  ke  arah  yang  lebih baik. Pengalaman historis perjuangan bangsa telah membuktikan bahwa mahasiswa selalu memainkan  peranan penting dalam setiap perjuangan. Mahasiswa telah menjadi kekuatan yang ada pada setiap perubahan yang tertoreh dalam sejarah bangsanya.

Istilah gerakan mahasiswa menjadi sangat populer setelah terjadi sebuah fenomena  monumental  di  tahun 1998.  Meskipun  pada  masa  sebelumnya, gerakan  mahasiswa  juga  pernah  secara  aktif  memelopori perubahan.  Dalam konteks  transisi  politik  di  Indonesia,  gerakan  mahasiswa  telah  memainkan peranan yang penting sebagai kekuatan yang secara nyata mampu mendobrak rezim otoritarian.

Kalau  kita  melihat  sejenak  peran  gerakan  mahasiswa  dalam  konteks semangat  zamannya,  kita  bisa menengok  kembali  kepada  peran  mahasiswa dalam   kurun  waktu   yang   amat   menentukan   dalam sejarah bangsa   kita. Munculnya angkatan-angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, dan 1998 di pentas politik baik  yang berhasil ataupun yang gagal total kiranya senantiasa dilandasi   semangat   untuk   melakukan kritik   terhadap   “status   quo”   dan mengharapkan kehidupan baru yang lebih baik dan dengan impian dan harapan yang lebih baik pula.

Mahasiswa pernah menjadi salah satu bagian dari gerakan pemuda yang tidak  dapat  dipisahkan  dengan  proses  perjuangan  bangsa,  sejak  terjadinya kebangkitan   pemuda   1908.   Pada   masa   kebangkitan   nasional   ini,   kaum intelektual muda  adalah  bagian  pendobrak  cara pandang  yang  kolot  dengan mengadopsi cara pikir yang cerdas.

1908 adalah munculnya generasi gerakan di tahun 1966 yang diyakini berhasil menumbangkan rezim Orde Lama dan menggantikannya dengan rezim Orde Baru.  Kemudian, gerakan mahasiswa angkatan 1978 muncul sebagai kekuatan yang  menolak  usaha-usaha  depolitisasi  terhadap  mahasiswa.

Sementara  itu, angkatan 1980-an   muncul    sebagai   generasi   gerakan   kritis   yang   tidak memunculkan   gerakan   yang   masif,   tetapi intensif terjun   lagsung   dalam masyarakat  dalam  kelompok-kelompok  diskusi  dan  LSM-LSM  yang bekerja secara langsung dalam basis masyarakat. Puncak dari gerakan mahasiswa terjadi pada angkatan  1998 yang diyakini berhasil menumbangkan rezim Orde Baru.

Yang kemudian melahirkan aktivis-aktivis mahasiswa yang cerdas dan berani. Pada   umumnya,  gerakan  yang dibangun  oleh  para  aktivis  mahasiswa  ini berangkat dari  sebuah kesadaran tentang posisi masyarakat yang berhadapan dengan negara (konsep patron-client). Kesadaran tersebut kemudian membawa aktivitas gerakan pada sebuah tujuan yang hendak dicapai.

Dengan melibatkan berbagai wacana yang mampu  mendukung terwujudnya tujuan gerakan, para aktivis  akan  mengembangkan  sebuah  metode,  strategi,  atau  taktik gerakan sebagai  hasil  dan  tindak  lanjut  dari  tingkat  kesadaran  yang  mereka  miliki tentang ketegangan antara negara dengan masyarakat.

Dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia sendiri, aktivitas gerakan mahasiswa selalu mengalami pasang surut, tercapai atau tidaknya tujuan gerakan sangat tergantung pada metode dan strategi gerakan  yang  digunakan.  Beda  zaman  beda  tantangan,   begitulah gambaran dinamika gerakan mahasiswa dalam torehan sejarah.

Pada kesimpulannya dalam bingkai sejarah, gerakan mahasiswa pernah menjadi bagian dari sebuah gerakan pemuda Indonesia. Mahasiswa pernah menjadi salah satu bagian dari gerakan  pemuda sebagaimana dilukiskan sebagai sosok yang dinamis ini, posisi  pemuda  yang  didalamnya  termasuk  mahasiswa,  tidak  bisa dipisahkan dengan proses perjuangan bangsa, sejak terjadinya kebangkitan pemuda 1908. Pemuda  adalah pelopor  pada  zamannya.

Pada  masa  kebangkitan  nasional, pemuda   adalah   bagian   pendobrak   cara pandang   kegelapan   dengan   cara mengadopsi cara pikei yang “aukflaris” dalam gegap gempita modernisasi.

Pemuda memiliki posisi mitologis sebagai kekuatan selalu tampil untuk menyuarakan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan menentang segala bentuk ketidakadilan pada zamannya.  Dan  dari   perjalanan sejarah sejak pembentukan bangsa modern sampai dengan reformasi ini, pemuda (mahasiswa)  terbukti  selalu memberikan  kontribusi  yang  sangat  besar  bagi bangsa  dan rakyat Indonesia.

Kesan herois ini di satu sisi memang tidak bisa ditolak, meskipun di sisi lain perlu dikritisi secara mendalam. Keragaman latar belakang, motivasi, visi politik serta orientasi masing- masing kesatuan aksi telah menjadikan gerakan mahasiswa tidak dapat dilihat sebagai  entitas yang homogen. Apalagi jika dilihat dari perjalanan gerarakan mahasiswa,  sangat sulit menempatkan unsur mahasiswa sebagai satu barisan monolitik dari civil   society.

Sejauh  mana  kita  kaji  perjalanan gerakan mahasiswa, berhasil atau tidaknya tujuan  yang hendak dicapai tidak hanya  bergantung  dari  strategi  atau  taktik  yang  diterapkan  oleh  mahasiswa dalam penyelesaian konflik atau ketegangan antara negara  dan rakyat.

Tetapi juga, sejauh mana mahasiswa mampu berafiliasi dan membangun  jaringan ke tingkat elite, “turun ke bawah” mengadvokasi akar  rumput, bergelut  dengan friksi demi tercapainya sebuah perubahan yang nyata, serta menjadi penghubung lidah rakyat dengan tuntutan yang “atas nama  rakyat Indonesia” kepada negaranya.