Markiting dan Dolgembul Slogane “Kudu Iso Nulis Opo Wae”

Bisa menulis model apa saja itu yang menjadi slogan Markiting dan Dolgembul sebagai seorang penulis kawakan. Masih tetap menulis meskipun hanya sekedar menulis. Apa yang ada di fikiran, didengar dan dilihat kalau mau dijadikan tulisan bisa saja. Tapi tulisan itu hendak dibaca oleh siapa itu yang paling penting, “ora sokor nulis”.

Markiting yang sudah lama bergelut dalam dunianya yakni menulis, hampir setiap hari Markiting produksi tulisan. Selain diary nya yang penuh dengan coretan kisah “ambyarnya” dengan mantan, Markiting ini punya job-job menulis berbayar dari Bosnya, tapi bukan penulis bayaran. Dengan modal pengalaman, katiasan, kesaktiannya menulisnya itu, sehingga tidak heran jika sombongnya, kemlintinya, kemetaknya didahulukan.

“Soal tulis menulis saya paling jago, wong bendino garapanku artikel sakpirang-pirang”, Ucap Markiting sambil “jigang” nyruput kopi Udude “tengwe” dekat Dolgembul. Memang! Tulisannya “seambreg”, itu yang dijadikan modal Markiting Kemlinti, Sombong, Kemetak, sok-sokan.

“Paling-paling awakmu mek iso nulis pesenane bosmu wae Ting, cobo nulis seng rodok berbobot”, sahut Dolgembul yang tengah leyeh-leyeh didekat Markiting sambil baca trending topic harian di medsosnya.

Mereka berdua memang sering “gontok-gontokan”, namun pertemanannya tidak pernah jadi mantan. Karena versi mereka jadi mantan itu berat, cukup dengan dia saja mantan “ambyar” yang gak bisa dijogeti lagi kayak lagunya Maestro Alm. Didi Kempot.

Dolgembul merupakan sahabat karib Markiting yang orangnya lues, dan “gak neko-neko”. Juga bisa dibilang Dolgembul ini adalah senior Markiting. Mendengarkan ocehan Markiting, yang menjadi kemlinti, sombong, kementus! Meskipun memang Markiting sebenarnya “sumbut” menjadi orang sombong, tapi menurut Dolgembul itu kurang tepat. Lantas Dolgembul bergegas bangun dari leyeh-leyehnya sambil jitak kepala Markiting.

“Wong sombonge kok eram, koyok Malaikat Azazil, senajan awakmu duwe tulisan seambrek, ndi karya nyata bukumu?”, timpal Dolgembul. Klakep Markiting cengengas-cengenges, tolah-toleh kayak kipas angin rusak karena belum punya karya Buku, hanya karya skripsi yang sekarang ijazahnya entah kemana.

“Wah, lek ditakoni buku yo gung duwe to Mbul, wong skripsi ae diewangi? Hehehe”, Jawab Markiting yang tetap saja kementus, kemetak didepan seniornya, Dolgembul itu.

Percakapan mereka yang seakan-akan Markiting menjadi superior, “iso nulis opo wae” itu menjadi “Ambyar” karena kedatangan Bos Muda yang tengah membawa topik hangat dari luar sana.

Bos Muda ini juga teman sejawat, teman ngopi Markiting dan Dolgembul pada saat masih sama-sama kuliah dulu sampai sekarang. Yang masa hidupnya sejak masih kuliyah selalu “gluntang-gluntung” bertiga, kemana-mana bertiga, apalagi pas waktu ngopi (sampi apal bakule).

Hanya saja nasibnya yang tidak sejawat. Bos muda punya nasib sedikit lebih beruntung. Tempat Markiting dan Dolgembul kerja itu milik Bos Muda. Mereka bisa saling kerjasama dalam setiap bisnis, termasuk dalam konteks menulis. Bos Muda sangat percaya dengan pengalaman mereka berdua.

“Ting, Mbul, aku sengojo mrene mergo iki ono seng genting, seng gak iso tak omongno lewat pesan media”. Timpal Bos Muda.

“Opo bos?”, Sahut Markiting penasaran dan bahagia, karena biasanya Bos selalu kasih uang kopi dan rokok jika ada sesuatu yang genting-genting kayak gini. Dolgembul masih tetap bersikap santai saja, karena selain Dolgembul ini lues dan “ora neko-neko”, seolah dia sudah tahu apa yang akan disampaikan bos, karena lebih dulu baca berita harian dalam medsosnya.

“Wes moco Berita harian Ting, Mbul?”, Sambil Gebleg punggungnya Markiting, Bos Muda langsung memberikan arahan dan intruksi yang serius kepada Markiting dan Dolgembul apa yang mesti mereka lakukan.

“Duniamu sementara menulis, karena ini profesi yang kamu banggakan dan kamu jadikan salah satu dari pundi-pundi ekonomi kalian, apakah tugas ini terlalu berat untuk kalian berdua?” Tanya Bos Muda setelah memberikan arahan dan intruksinya.

Serentak, “Pantang tolak tugas, Pantang tugas tak selesai, pantang terima rokok sebelum tugas selesai”, piye pasworde Ting? Udude di klepusne karo jegagakan Markiting Jawab  “kudu iso nulis opo wae”.

Slogan yang selama ini dipegang teguh mereka berdua pantang, pantang dan pantang itu menjadi prinsip kejujuran dan komitmennya. Meskipun pada akhirnya selain gaji, uang rokok harus ada, Markiting dan Dolgembul sosok yang bisa dihandalkan dan bisa memegang teguh kewajibannya sebelum menerima hak-haknya. (Penulis adalah teman Markiting dan Dolgembul)