Perjalanan Andika Wayan Meraih Gelar Magister di IAIN Tulungagung

Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan tentang perjalan saya dalam menempuh gelar magister di IAIN Tulungagung. Saya sebagai anak pertama dari 3 saudara bukan terlahir dari keluarga kaya harta.

Namun meskipun demikian, semangat orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya sangat luar biasa. Pada waktu saya memasuki S1 tahun 2010, adik saya nomor 2 sekolah di SMP, dan yang ketiga masih dibangku SD. Bagi saya, beban menyekolahkan ketiga anak ini sangat berat.

Saya masih ingat pesan orang tua saya kala itu, “Wong tuwek gak iso marisi bondo, tapi insya Allah isok menehi bekal kepinteran marang kowe kabeh”. Orang tua tidak bisa mewarisi harta benda, tapi insya Allah bisa memberikan bekal ilmu yang cukup kepada kalian semuanya.

Atas semangat dan materiilil serta do’a dari kedua orang tua, alhamdulillah saya bisa menyelesaikan studi hingga gelar magister.

Masuk Studi S1 ​​di IAIN Tulungagung Tahun 2010

Saya masuk kuliyah S1 tepat pada tahun 2010, lulusnya tahun 2015. Budaya molor masih melekat pada aktivis dunia. hehe.

Perjalanan S1 selama 5 tahun itu, menurut saya sangat memberikan kesan dan arti penting pada kehidupan saya selanjutnya. Bahwa atas semua berkat jasa dan do’a dari kedua orang tua serta orang-orang terdekat, saya akhirnya bisa menyelesaikan studi.

Lulus S1 tahun 2015, sempat terbesit dalam hati untuk bisa kejenjang berikutnya, yakni S2. Namun niat itu saya urungkan kembali, mengingat untuk biaya S2 sangatlah tinggi. Kasihan orang tua mencari biaya.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk melajutkan studi S2 dan mencari pekerjaan. Meskipun orang tua tetap menyuruh saya untuk lanjut studi. Namun saya tetap bersikukuh untuk memilih kerja terlebih dahulu agar bisa meringankan beban orang tua. Minimal ketika saya mengerjakan studi, biaya studi bisa saya tanggung sendiri.

Bekerja Sebagai Penulis Artikel Freelance

Pekerjaan pertama saya setelah lulus S1 menjadi seorang penulis artikel Freelance . Pada saat itu, alhamdulillah saya diketemukan dengan seseorang yang berprofesi sebagai seorang penulis freelance di salah satu media. Sama beliau saya dikasih beberapa pekerjaan yang ditulis. Mulai dari situlah, saya kembangkan skill di dunia menulis.

Saya senang dan bersyukur atas pekerjaan saya ini, meskipun gajinya pas-pasan. Minimal untuk biaya hidup mandiri. Setelah berjalannya waktu, saya menekuni dunia menulis ini dan mengembangkan keterampilan menulis sebagai seorang penulis konten, atau jasa penulis artikel . Tahap inilah kemudian saya bisa mandiri minimal untuk kebutuhan saya sendiri sudah cukup.

Menjadi Ketua Umum Cabang Organisasi Mahasiswa

Pada tahun 2016 saya diberi amanah menjadi ketua Umum Cabang di salah satu organisasi mahasiswa. Sehingga saya harus membagi waktu antara pekerjaan dan Organisasi. Namun, pekerjaan penulis konten atau pekerjaan yang sulit untuk berbagi waktu.

Karena pekerjaan ini bisa dilakukan hanya dengan duduk di depan laptop / komputer saja. Sehingga kapanpun kita ada kesibukan lainnya masih bisa kita tinggal. Tapi tetap harus pinter-pinter membagi waktu antara pekerjaan dan organisasi.

Hanya dengan menjadi seorang penulis artikel, alhamdulillah saya sudah bisa mencukupi kebutuhan minimal saya sendiri tanpa harus meminta izin lagi kepada orang tua. Do’a saya untuk bisa mandiri telah terjawab sudah.

Terus lagi S2 masih saya urungkan. Saya khawatir ditengah perjalanan tabungan saya belum bisa mencukupi kebutuhan kuliyah S2.

Menikah di Usia 26 Tahun

Saya menikah di Usia 26, tepatnya Bulan Mei 2017. Pada saat itu di posisi sebagai ketua Umum Organisasi Mahasiswa. Karena pernikahan ini harus berlangsung, saya merekomendasikan untuk mengundurkan diri dari ketua umum.

Karena saya khawatir tidak bisa membagi waktu antara keluarga dan organisasi. Apalagi tahap saya masih sangat pas-pasan. Bagaimana mungkin dengan kondisi ekonomi seperti ini saya bisa berbagi fokus antara organisasi dan keluarga.

Pada saat gaji yang pas an, harus berbagi waktu antara organisasi dan keluarga. Saya sudah tidak mungkin lagi bisa melanjutkan S2. Karena biaya S2 tidak mungkin bisa ditebus hanya dengan menghandalkan gaji sebagai penulis artikel saja. Sementara saya juga harus menghidupi keluarga dan organisasi. Pada akhirnya saya tetap harus menjalankan hal ini secara bersamaan.

Namun, apa yang saya khawatirkan itu ternyata masih diberi solusi oleh Allah SWT. Istri, keluarga, dan kawan-kawan organisasi mendukung saya untuk tetap berdedikasi di organisasi meskipun sudah berkeluarga. 

Tuhan berkehendak diluar nalar kemapuan kita. Justru mulai dari sinilah cita-cita dan do’a untuk melanjutkan S2 saya ini terkabulkan. Keluarga, terutama memberikan kesempatan dan saran kepada saya untuk melanjutkan sekolah S2. 

Lanjutkan Studi Pascasarjana di IAIN Tulungagung

Pada akhirnya saya lanjut studi tahun 2017 yang seharusnya wisuda di tahun 2019. Namun, kali ini saya harus wisuda dan lulus gelar magister pada tahun 2020. Kemoloran ini bukan karena saya masih menjadi aktivis, hehe. Namun, disebabkan karena adanya pandemi Covid-19. Sehingga wisuda tahun ini harus ditunda, dan akan dilaksanakan kembali dengan metode “Drive- Thru” untuk jadwal wisuda Pascasarjana besok tanggal 10 November 2020.

 

 

Leave a Comment