10 November: Hari Kepahlawananku Menuju Gelar Magister

Mengapa harus bangga? Iya!! Bukan karena GELAR Magister, Namun etape Atau Tahapan dalam perjuangannya yang membuat saya sangat bangga dan bersyukur.

10 November 2020 tepatnya, saya terwisuda dengan gelar Magister. Proses yang panjang dan berliku-liku telah kuselesaikan 1 tahun yang lalu. Tepat hari ini saya sengaja rayakan ulang tahunnya dengan sedikit menuliskan etape -etapenya agar saya tidak lupa dengan perjuangan kedua orang tua saya.

Saya, sebagai anak sulung dari 3 bersaudara, yang juga dalam kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Meskipun dalam keadaan pas-pas an, orang tua memiliki Ghirah semangat untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai kejenjang yang pantas, yakni sampai kuliyah S1 minimalnya. Agar kelak, meskipun anak-anaknya tidak diwarisi harta benda, minimal orang tua sudah membekali Ilmu.

Saya masih ingat pesan orang tua waktu itu, Orang tua tidak bisa mewariskan harta, tapi insya Allah bisa memberikan ilmu yang cukup untuk kalian semua.

“Wong tuwek ora iso marisi bondo, tapi insya Allah aku isok nyekolahne sampian kabeh”.

Saat saya masuk S1 tahun 2010, adik saya nomor 2 di SMP, dan yang ketiga masih duduk di bangku SD. Beban keuangan pada saat itu terkonsentrasikan seolah-olah hanya di pendidikan anak saja.

Berkat semangat dan materi serta doa dari kedua orang tua, alhamdulillah saya bisa menyelesaikan studi hingga gelar Magister.

Masuk Studi S1 ​​di IAIN Tulungagung tahun 2010

Saya masuk studi S1 pada tahun 2010, lulus di tahun 2015. Molor kuliyah 1 tahun bukan tanpa sengaja. Karena, dirasa kurang cukup menimba ilmu di perkuliyahan saja, saya berniat untuk menimba ilmu ditempat lain sebagai pelengkap ilmu yang saya dapatkan dari kampus. Itu hanya bisa saya temukan di aktivitas luar kampus, yakni ikut di Organisasi Ekstra HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dengan demikian, akhirnya saya punya banyak kesibukan yang produktif, sehingga berkesempatan untuk belajar banyak hal, termasuk dalam ilmu sosial bermasyarakat.

Bahwa berkat segala jasa dan doa dari orang tua dan orang-orang terdekat, akhirnya saya bisa menyelesaikan studi saya. Lulus S1 tahun 2015, terpikir untuk bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu S2. Tapi, pada saat itu mengingat biaya S2 tidaklah sedikit, maka niat terpaksa saya urungkan dulu. Meski demikian, sebenarnya orang tua sangat mendukung jika saya harus menempuh studi kejenjang yang lebih tinggi lagi. Namun pada akhirnya saya tetap memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Setidaknya bisa meringankan orang tua untuk beban biaya perkuliyahan.

Bekerja sebagai Penulis Freelance di Beberapa Media Sosial 

Pekerjaan pertama saya setelah lulus S1 adalah sebagai penulis di media online. Saat itu, alhamdulillah saya dipertemukan dengan seseorang untuk diajak sebagai penulis lepas (freelance) di sebuah media online. Terima kasih mas Yhan dan Mas Dian.

Meskipun gajinya tidak banyak, tapi saya mencoba untuk tetap bersyukur. Minimal untuk biaya hidup sendiri dan meringankan beban orang tua. Seiring berjalannya waktu, saya terus menekuni profesi itu.

Meskipun sudah lulus S1, alhamdulillah saya tetap bisa aktif di HMI. Sampai pada suatu ketika diberi amanah untuk menjadi Ketua Umum HMI Cabang Tulungagung periode 2017-2018.

Menjadi Ketua Umum HMI Cabang Tulungagung

Pada tahun 2017 saya diberi amanah untuk menjadi ketua umum HMI cabang Tulungagung. Aktivitas di organisasi sangat padat, sehingga saya harus pintar-pintar bagi waktu kerja dan organisasi.

Sampai disini saya sangat bersyukur diberi kesempatan dan bisa tetap mengurus organisasi dan bekerja. Sampai akhirnya, Tuhan memberi saya hidayah untuk menikah. Ini menjadi tantangan baru saya, yang pada awalnya mempunyai cita-cita S2, kini sudah tidak lagi terfikir dibenak. Karena, menurut saya untuk mengatur waktu, apalagi ekonomi keluarga dan biaya S2 bukan hal yang mudah saya realisasikan pada waktu itu.

Menikah di Usia 26 Tahun

Saya menikah di usia 26 tahun tepatnya pada Mei 2017. Saat itu saya masih menjabat sebagai ketua Umum HMI. Pikiran saya hanya fokus pada keluarga baru dan organisasi. CItacita S2 pupus sudah.

Namun, Allah Maha segalanya. Apa yang dianggap manusia tidak bisa, jika Allah berkehendak semua pasti bisa dan terjadi. Ternyata Allah berkehendak di luar pemahaman kita.

Justru sampai sinilah, dengan Izin Allah dan dorongan dari kedua orang tua dan juga Istri, saya diberikan rizqi yang tak terduga-duga, yang pada akhirnya cita-cita S2 bisa tercapai.

Melanjutkan Studi Pascasarjana di IAIN Tulungagung

Studi S2 saya awali di tahun 2017, yang seharusnya lulus tahun 2019. Namun, kali ini saya harus lulus dengan gelar magister di tahun 2020. Keterlambatan ini bukan karena saya masih aktivis, hehe. Namun, karena pandemi Covid-19. Jadi wisuda tahun ini harus ditunda, dan akan diadakan kembali dengan menggunakan metode “Drive-Thru” untuk jadwal wisuda Pascasarjana, 10 November 2020.

Baca Selengkapnya: Wisudaku Tertunda

Sampai disini syukur alhamdulillah, meskipun saya terlahir dari keluarga yang ekonominya pas-pasan, juga terlahir dari pesisir laut selatan (Pantai Brumbun). Tapi dengan izin Allah melalui orang-orang hebat seperti bapak dan ibuk serta istri dan keluarga tercinta, orang pinggiran pun juga bisa mengenyam pendidikan yang tinggi.

Pada akhirnya, pahlawan saya adalah orang tua, istri serta keluarga dan orang-orang terdekat. Yang tidak hanya memberikan dukungan materiil saja, tapi juga dukungan moril dan kekuatan do’anya didengar Oleh Allah SWT.

“Jangan Lupa, Kamu adalah pahlawan dari ceritamu sendiri,” (Greg Boyle)