Tafakur Episode 1 – Tidak Hanya Sekedar Berfikir

Perjalanan hidup seseorang dalam sebuah pencarian dunia dan akhiratnya. Keyakinanan hidup dalam kesempurnaan menjadikan dirinya sendiri menjadi pribadi yang tidak menentu (kadang-kadang).

Kadang dia merasa bahwa tidak ada seorangpun yang bahagia di dunia ini kecuali dia, dan terkadang juga sebaliknya, tidak ada seorangpun yang sengsara selain dirinya.

Perasaan dan pemikiran yang tidak menentu atau labil inilah yang menjadikan dirinya seakan menjadi pribadi yang tidak punya prinsip atau pegangan hidup yang jelas.

Ketidak jelasaan menyadarkan dirinya bahwa pada episode hidup harus ada yang namanya tafakur. Sudah menjadi kodrat manusia yang diberi akal untuk berfikir. Namun, takafur lebih pada perintah yang serius untuk dijalankan dalam episode kehidupan manusia.

Allah menyuruh kita untuk selalu bertafakur. Artinya tidak hanya sebagai makhluk yang kodratnya berfikir, namun bagaimana daya fikir itu bisa menjadikan manusia yang sesungguhnya. Arti lain adalah manusia merdeka, manusia sempurna dan manusia yang paripurna.

***

Apa-apa yang diperintahkan Allah kepada hambanya tidaklah mungkin menyesatkan. Artinya mustahil bagi Allah menyesatkan umatnya atas segala perintah, terlepas perintah itu yang dapat langsung dipahami atau yang masih samar. Seperti dalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkam dan mutasyabihat (wallohu ‘alam).

Pada Episode kehidupan seseorang yang berniat untuk ngaji, dalam bahasa jawa “oncek-oncek”, atau “golek-golek” apa yang menjadi tujuan dunia dan akhiratnya. Tafakur adalah salah satu tahapan dari episode kehidupan yang harus dilakukan. Hampir mustahil tujuannya akan tercapai jika etape atau tahapan ini diabaikan atau bahkan dihilangkan.

Alasan yang realistis mengapa manusia harus bertafakur adalah selalu mengingat, membersihkan hati untuk mendapatkan ridha Rabb-Nya.

Imam al-Ghazali menyifati tafakur ini dengan dasar mencari penerangan hati untuk bisa berkomunikasi dengan RabbNya. Itu artinya tafakur salah satu cara saja agar hati tetap bersih. Namun jika cara itu tidak dilakukan dengan kesadaran niat, mustahil pula akan mendapatkan cahaya qolbu.

Tafakur memang harus benar-benar dalam keadaan niat. Terlepas bagaimana cara dia bertafakur, ada yang diam menyendiri, dan bahkan ada yang sebaliknya dia justru selalu mencari kesunyian dalam keramaian.

Mengingat cara bertafakur seseorang itu beda-beda, maka tidak elok jika kita saling mendahului dan bangga atas diri bahwa:

“Aku selalu menangis merenungi segala dosa, bertaubat dalam keheningan malam, berhati-hati dalam melangkahkan kaki, apalagi dalam urusan dunia, aku tidak mau hidupku penuh dengan subhat apalagi keharaman”.

Sebenarnya bagus jika kita sudah benar-benar melakukan hal demikian. Tapi, kesombongan diri tiba-tiba akan muncul dengan sangat halus ketika kita merasa bahwa yang lain belum melakukan itu.

Pada prinsipnya tafakur akan membawa seseorang pada kesembuhan penyakit hati yang selama ini selalu hinggap pada siapa saja. Termasuk orang alim dan sholeh sekalipun.

Leave a Comment